Kamis, 03 Juni 2021

Kenali Penyakit Kusta dan Cara Menghindari Kecacatan Akibatnya

  

Kukira penyakit kusta sudah hilang dari Indonesia, tapi ternyata …

Meski jumlahnya sedikit, tapi penyakit kusta atau yang juga dikenal dengan lepra itu masih ada di Indonesia. Dulu saat masih sekolah, saya hanya sekilas mengetahui tentang salah satu penyakit ini. Sejauh yang saya tahu penyakit ini menular dan ternyata tidak sedikit masyarakat yang mengucilkan penderitanya.

Sungguh, saya tidak bisa membayangkan penderitaan penderita penyakit kusta. Mereka harus berjuang dengan penyakitnya. Mereka butuh dukungan dari orang terdekat. Namun nyatanya masyarakat sekitar mengucilkannya. Duh!

Etapi itu dulu, ya. Sekarang, banyak usaha yang dilakukan pemerintah untuk mengedukasi masyarakat tentang penyakit ini. Dengan banyaknya informasi diberikan kepada masyarakat, diharapkan masyarakat jadi lebih tahu dan kenal dengan penyakit ini.

Beberapa waktu lalu, saya mengikuti acara di KBR dengan topik pembahasan tentang penyakit kusta. Dalam kesempatan ini, ada dua tokoh yang dihadirkan. Ada bapak Komarudin, S.Sos.M.Kes selaku Wasor Kusta Kab. Bone, dan juga bapak Dr. Rohman Budijanto, SH, MH selaku Direktur Eksekutif The Jawa Pos Institute of Pro-otonomi.

 

Penyebab Penyakit Kusta

Penyakit kusta termasuk penyakit infeksi. Penyebabnya adalah bakteri Mycobacterium leprae. Bakteri ini menyerang jaringan kulit dan syaraf tepi. Sebenarnya penyakit kusta ini termasuk penyakit menular, ya. Namun cara penularannya tidak mudah.

Penyakit kusta menular melalui ludah, dahak, dan juga droplet. Untuk tertular penyakit ini, seseorang harus terpapar ludah, dahak, dan droplet penderita terus menerus. Bukan yang sekali kena langsung tertular.

Bakteri Mycobacterium leprae butuh waktu untuk berkembangbiak dalam tubuh baru. Berhasil atau tidaknya bakteri ini berkembangbiak akan berbeda pada masing-masing orang.

Daya tahan tubuh adalah salah satu banteng agar bakteri Mycobacterium leprae tidak dapat berkembang biak. Jika memiliki daya tahan tubuh baik, seseorang tidak akan mudah tertular.


Baca juga >>> Bumil Mulai Merasakan Stress? Lakukan 7 Hal Ini Agar Bumil Lebih Menikmati Masa Kehamilan

 

Kenali Gejala Penyakit Kusta

Bapak Komarudin banyak memberikan informasi tentang perkembangan penyakit kusta di Bone. Tahun ini, penderita penyakit kusta menurun dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Salah satu peyebabnya karena berkurangnya aktivitas pendataan yang dilakukan tenaga kesehatan.

Selama pandemik berlangsung, beberapa aturan baru diberlakukan. Salah satunya adalah saling menjaga jarak. Akibatnya, beberapa kegiatan harus dibatasi. Tidak semua kegiatan bisa dilaksanakan, termasuk pendataan kepada masyarakat yang terindikasi terkena penyakit kusta.

Biasanya, pemerintah bekerjasama dengan para kader dan tenaga kesehatan melakukan pendataan terhadap masyarakat yang memiliki kelainan pada kulit. Semisal munculnya bercak bercak pada kulit.

Jika terdapat masyarakat yang mengalami kelainan kulit, data tersebut akan ditindaklanjuti oleh pihak puskesmas terdekat. Pemeriksana lebih lanjut dilakukan untuk memastikan apakah bercak tersebut mengarah pada penyakit kusta.

Selain munculnya bercak pada kulit, menurut beberapa sumber, ada gejala lain yang bisa untuk mendiagnosa penyakit kusta:

  • Kulit mati rasa
  • Muncul luka tapi tidak terasa

 

Yang Perlu Diperhatikan Penderita Penyakit Kusta

Bagi orang yang sudah menderita penyakit kusta, semakin cepat mendapatkan pengobatan dapat mencegah keparahan penyakit ini. Jangan menunggu sampai parah. Duh!

Seperti yang saya katakan sebelumnya, yang banyak membuat takut masyarakat adalah dampak dari penyakit ini, yaitu kecacatan.

Untuk mencegah kecacatan, menurut Bapak Komarudin, penderita harus lebih memperhatikan kondisi diri terutama pada daerah tangan, mata, dan kaki. Perhatikan tangan jika terdapat luka, mata mengalami kabur pandangan, dan kaki mengalami mati rasa.

Jika sudah mendapatkan gelaja tersebut, segeralah ke puskesmas untuk mendapatkan pengobatan.

Para penderita penyakit kusta juga harus merawat diri. Luka yang muncul harus dirawat dengan baik dengan metode rendam-gosok-oles:

  • Rendam luka dengan air
  • Bersihkan luka
  • Tipiskan pinggiran luka
  • Oleskan obat pada luka
  • Balut luka dengan baik

Satu hal penting lain yang harus diperhatikan penderita penyakit kusta adalah rajin memeriksakan diri ke puskesmas, terutama untuk monitoring fungsi syaraf. Lagi-lagi ini dilakukan untuk menghindari kecacatan permanen.

 

Baca juga >>> Eat, Pray, and Health

 

Mencegah Penularan Penyakit Kusta

Hingga saat ini, belum ada vaksin untuk mencegah penyakit kusta. Penegakan diagnosa dan pengobatan yang segera dan tepat dapat memutus mata rantai penularan. Hal ini dapat menurunkan angka kejadian penyakit kusta, mengobati penyakit, serta mencegah timbulnya kecacatan.

Selain melakukan pengobatan, pemerintah melalui kader-kadernya juga melakukan edukasi pada masyarakat. Dengan banyaknya infromasi yang diberikan kepada masyarakat tentang penyakit kusta, penderita lebih sadar dan mau memeriksakan diri sedini mungkin. Sedangkan bagi masyarakat, edukasi penyakit kusta dapat membantu menghilangkan stigma buruk pada penderita.

 

Soal Stigma Masyarakat

Stigma masyarakat yang buruk, menganggap ini penyakit turunan atau juga kutukan, membuat penderitanya semakin terkucil. Padahal ini adalah penyakit infeksi dan dapat disembuhkan.

Penderita kusta dapat sembuh, meski terkadang harus menerima kenyataan akan dampak buruk penyakit ini, yaitu kecacatan. Hal ini dapat membuat mantan penderita, atau yang biasa disebut OYPMK (Orang yang Pernah Mengalami Kusta) merasa minder.

Menurut Pak Rohman, banyak perusahaan yang kini menerima difabel. Salah satunya adalah perusahaan yang dipimpinnya. Tidak ada diskriminasi bahkan dimulai saat perekrutan. Semua calon pekerja menjalani cara seleksi yang sama.

Kompetensi adalah kunci. Selama calon pekerja memiliki kompetensi yang dibutuhkan dan mampu melaksakan tugas dengan baik, disabilitas bukan halangan untuk bekerja.

Masih menurut Pak Rohman, di zaman new normal ini, alangkah baik jika OYPMK mendapatkan keahlian online. Ini juga untuk menjawab stigma negatif masyarakat yang terkadang masih kurang mau berinteraksi dengan OYPMK.

 

Baca juga >>> 7 Langkah Meningkatkan Kualitas Tidur

 

Penyakit kusta bukan kutukan. Tidak seharusnya penderitanya dikucilkan. Yuk, lebih banyak mencrai infromasi tentang penyakit kusta agar tidak ada lagi stigma negatif tentangnya.

 

Sumber Referensi :

https://www.alodokter.com/kusta

https://www.halodoc.com/kesehatan/kusta

https://www.halodoc.com/artikel/ketahui-3-jenis-kusta-dan-gejala-yang-dialami

https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/rilis-media/20170127/3819511/temukan-kusta-sejak-dini-tidak-ada-kecacatan-tidak-ada-stigma/

 

 

~ Hana Aina ~

 

Baca juga, ya ...



















Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berbagi komentar