Selasa, 24 Oktober 2023

Forgiven but Not Forgotten

  

Forgiven but not forgotten

Saya tidak sedang bernyanyi, ya, BESTie :P

Saya sedang berusaha menulis sekaligus curhat tentang memaafkan dan melupakan. Yup! Saya percaya setiap kita punya pengalaman tidak mengenakkan. Entah itu peristiwa atau kata-kata yang membuat kita marah, sakit hati, kecawa, dll. Intinya, sesuatu kesalahan yang dilakukan itu menggoreskan luka di hati kita.

Saat peristiwa tidak mengenakkan itu datang, saya biasanya menahan diri. Seolah itu adalah respon pertamaku karena tidak terima atas perlakuan atau perkataan orang tersebut padaku. Akibatnya, secara fisik saya merasakan detak jantungku berdetak kencang, napasku tersengal, dan sekujur tubuh terasa panas. Ingin rasanya saya membalas perlakuannya saat itu juga. Untungnya saya masih bisa menahan diri.

Setelahnya, saat saya sendiri atau menjauh dari pelaku, saya baru akan meluapkannya dengan menangis, marah-marah, atau ngomel. Saya merasa sedikit lega tapi tetap saja, ada ganjalan dalam hatiku yang masih terasa sakit.

 

Dimaafkan tapi tidak dilupakan.

Saya percaya waktu akan menyembuhkan segalanya. Yup! Itulah yang sering terjadi padaku. Ledakan emosi yang datang perlahan mulai surut. Saya mulai merasakan ketenangan. Apalagi saat saya mulai menyibukkan diri dengan berbagai aktivitas, yang secara tidak langsung ini mengalihkan perhatianku dari rasa sakit dalam hati.

Lantas, apakah berarti saya sudah memaafkan?

Saya tidak pernah mengatakan secara tegas bahwa saya memaafkan. Ketika kesalahan yang dia lakukan terhadapku begitu menyakitkan, maka kesalahan itu tidak mudah dimaafkan apalagi dilupakan. Namun yeah, saya masih bisa bersikap normal terhadapnya sama seperti sebelum kejadian, meski terkadang jika kesalahan itu terlalu menyakitkan, saya butuh waktu yang lebih lama untuk menetralkan perasaan. Bisa jadi saya akan berusaha menghidarinya. Entah itu mengambil jeda untuk tidak berkomunikasi ataupun berhubungan dengannya, atau menghindar mencari jalan lain saat berpapasan dengannya. Ini saya lakukan lebih karena menjaga perasaanku.

 

Baca juga >>> Charity bersama Yayasan Rumah Lentera

 

Ketika ada pemicu yang mengingatkan tentang kesalahan itu, hatiku pun terasa sakit kembali. Hingga pada akhirnya saya perbanyak istighfar dan mengadu pada Alloh. Saya mengakui apa yang kurasakan pada Alloh, barulah saya mengatakan bahwa saya telah memaafkan.

”Ya, Alloh saya sakit hati pada si A saat dia bilang kalau bla bla bla. Saya memaafkannya, ya, Alloh. Tolong bantu saya untuk menghilangkan sakit hati ini. Saya ikhlas, ya, Alloh.”

Percaya atau tidak, setelah saya mengadukan semua pada Alloh, hati saya perlahan plong. Seperti ada sesuatu yang meanrik bongkahan yang selama ini mengganjal di hatiku. Setelahnya, saya bisa menjalani hari dengan lebih tenang. Semisal pun ada trigger kembali, saya sudah tidak merasakan rasa sakit seperti dulu. Saya hanya perlu menarik napas dalam dan melantunkan istighfar.


Tentang Memaafkan dan Melupakan

Pemaaf akan berusaha melupakan tapi pendendam akan terus mengungkit dan baru akan berhenti setelah puas dendamnya telah terbalaskan.

Saya melakukan evaluasi pada diri sendiri. Yeah, semacam muhasabah, gitu. Saya mencoba mengenali hal apa saja yang membuatku sakit hati, perlakuan seperti apa yang membuatku tidak nyaman, dan sejenisnya.

Saya berusaha mengenali semua itu untuk berjaga-jaga. Andai nanti saya bertemu dengan orang-orang atau mendapat perlakuan dan perkataan yang seperti sebelumnya, lalu rasa kurang nyaman mulai datang, saya bisa mencegah dengan cara menghindarinya.

Sekarang saya lebih sering berusaha memaafkan. Saya merasa lebih rilek dan tidak mudah memasukkan segala hal yang datang padaku ke dalam hati dan pikiran. Istulahnya, nggak baperan. Saya mulai meyakini bahwa sayalah pengendali diri, perasaan, dan pikiranku. Meski orang lain menyakiti dan melakukan kesalahan padaku, tapi jika saya tidak baperan, kemungkinan besar saya tidak akan sakit hati. Dengan kata lain, saya tidak akan membiarkan sesuatu yang negative masuk ke dalam diriku.

 

Baca juga >>> Kisah di Balik Nama Blog Coretan Hana

 

Bagiku memaafkan dan melupakan adalah dua hal berbeda. Saya mungkin lebih mudah memaafkan, tapi sulit melupakan. Apalagi saya berwatak Melankolis, meski tidak dominan. Saya bisa terus mengingat perlakuan dan perkataan orang lain yang pernah menyakitiku, meski sekarang rasanya berbeda. Saya sudah tidak semarah, sedendam, atau pun sesakit hati seperti dulu. Namun saya tetap mengingatnya. Pada titik ini saya menyadari satu hal, melupakan bisa jadi sesuatu kemustahilan, tapi memaafkan bisa diusahakan. Meski tidak mudah, bulan berarati tidak bisa, kan?

Saya akan spill bagaimana caraku selama ini berusaha untuk memafkan. Meski ini berhasil padaku, tapi belum tentu berhasil pada orang lain. Namun tidak salahnya mencoba, kan.

  • Mengenali emosi. Saya berusaha mengenali apa yang kurasakan saat itu. Marah, kecewa, sakit hati, dll. Kemudian cari penyebabnya. Bisa jadi karena perkataan si S, perlakukan si B, dll. Ini semacam mengidentifikasi sumber masalah.
  • Perbanyak istighfar. Bagiku, ini senjata ampuh untuk menenangkan diri. Sejak mendapat serangan pertama, segeralah beristighfar.Jangan lupa untuk mengambil napas panjang untuk membantu tubuh dan pikiran menjadi lebih rilek.
  • Mengadu kepada Alloh. Biasanya saya akan mengakui apa yang saya rasakan, lalu menyebutkan pula apa penyebabnya. Barulah saya mengatakan kalau saya memaafkan. Saya juga meminta kepada Alloh untuk membantuku untuk mengikhlaskannya.
  • Ambil jeda. Sering saya mengambil jeda waktu untuk memulihkan luka. Biasanya saya menghindari bertemu atau juga komunikasi. Meski saya sadari, tidak baik mendiamkan seseorang lebih dari tiga hari. Jadi, ya, nggak perlu selama itu juga. Saya harap dia akan peka meski saya tidak berharap banyak karena pada kenyatannya tidak semua orang peka dengan kesalahannya. Saya juga berusaha mengalihkan perhatianku dengan berbagai kegiatan. Ini bisa mengndarkanku dari stress karena terus memikirkan hal yang tidak mengenakkan itu.
  • Menyadari bahwa kendali ada di diri. Saya tidak akan membiarkan orang lain menyakitiku dengan melakukan kesalahan-kesalahan. Saya juga berusaha tidak baper dan membiarkan orang lain memporak porandakan kehidupanku.
  • Ubah dendam dan amarah menjadi bahan bakar. Ketika saya merasa sakit hati karena diremehkan, misalnya, aka nada rasa dendam dan amarah di situ. Namun keduanya justru keujadikan bahan kabar semangat untuk bekerja lebih keras, membuktikan bahwa saya bisa lebih baik dari tuduhannya. Kalau perlu saya akan berusaha menjadi lebih dari dari dirinya. Dan kalau itu tercapai, rasanya ada kepuasan tersendiri. Dendam dan amarah perlahan menghilang karena sudah dibayar tuntas dengan prestasi.

 

Baca juga >>> Merengkuh Pencapaian Tertinggi dalam Hidupku

 

Saya mengakui, memaafkan itu tidak mudah tapi bukan berarti tidak bisa, kan. Jangan sampai akibat kesalahan yang dilakukan orang lain, malah merugikanku sendiri. Bagiku, memaafkan menjadi salah satu usahaku mengurangi beban hidup. Ini kulakukan karena saya peduli dengan kesehatan mentalku. Jangan sampai saya menderita sendiri. Apalagi sampai stress.

Memaafkan terbih dulu barulah melupakan. Kalau pun tidak bisa, saya akan mengingatnya dengan rasa yang berbeda dari sebelumya.

 

~ Hana Aina ~



 Baca juga, ya ...

 






 

 

1 komentar:

  1. Betuuul . Memaafkan ga sama Ama melupakan. Aku butuh waktu lama utk bisa maafin Ex suami ku mba. Tp pada akhirnya capek sendiri utk membenci dia. Yg rugi aku, dia mah sadar juga ga kayaknya. Ngapain aku yg capek kaan.

    Akhirnya coba maafin. Tapi aku ga mungkin lupa, kecuali aku amnesia akut. Cukup tahu, dan jangan harap pernah ada kata rujuk dari situ. Udh tahu sifatnya gimana kan.

    Jadi maafin aja, tapi ga akan mungkin aku lupain. At least utk bhn pelajaran jangan sampe jatuh ke lubang sama.

    BalasHapus

Terima kasih telah berbagi komentar