Senin, 26 Oktober 2015

Sinergi Orangtua Dan Guru Dalam Mendidik Buah Hati


Children see, Children do. Make your influence positive ...
Dalam era globalisasi sekarang ini, pendidikan adalah salah satu hal penting yang harus diperhatikan dari seorang anak. Menurut Drs. Sukro Mubah, M.Si dalam seminar parenting “Sinergisitas Pembibaan Orangtua dan Guru Dalam Mendidik Buah Hati Untuk Menggapai Ridha Ilahi” di Gedung Saba Buana hari Sabtu 24 Oktober 2015 mengatakan, ada 4 pihak yang bertanggungjawab atas pendidikan anak, yaitu: orangtua, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Ini sesuai dengan Pasal 3 UU 20 tentang tujuan pendidikan adalah menjadikan manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. 

Orangtua sebagai pihak pertama yang bersentuhan langsung dengan anak memiliki beberapa kewajiban mulai sejak anak lahir. Saat anak lahir, orangtua memberikan nama yang baik, memberikan kasih sayang dan perhatian, serta memperhatikan dengan seksama perkembangan fisik dan mentalnya. Pendidikan yang baik juga dibutuhkan, baik ilmu pengetahuan maupun ilmu agama. Anak diperkenalkan dengan al qur'an sejak dini dengan harapan kelak menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Secara pribadi, orangtua hendaknya mempersiapkan diri menjadi pribadi yang baik sehingga dapat menjadi teladan bagi anak. Jika anak melakukan kesalahan jangan dicela, berikanlah nasehat yang baik. Begitu pula jika anak melakukan kebaikan, orangtua jangan segan untuk memberi penghargaan.


"Ilmu pengetahuan tanpa agama ibarat orang berjalan dengan mata buta. Agama tanpa ilmu pengetahuan ibarat orang yang berjalan dengan kaki pincang."
~Albert Einstain~

     Dalam dunia pendidikan yang diwakili oleh pihak sekolah, memiliki banyak tantangan yang semakin hari semakin berat. Sistem pendidikan kini semakin sekuler dan meterialistik, memisahkan ilmu pengetahuan dengan agama. Agama dianggap ketinggalan jaman. Agama juga dianggap penghambat kemajuan. Belum lagi adanya mismatch. Mulai dari tujuan pendidikan yang berbeda dengan implementasinya di lapangan. Kebiasaan yang berkembang di rumah yang terkadang kurang pendukung pendidikan di sekolah. Belum lagi moderenisasi yang diwakili dengan perkembangan iptek yang tidak dapat dikendalikan, hingga karakter masyarakat yang tercermin dalam banyaknya tontonan tidak mendidik di televisi.
       Sekolah baru dapat mendidik anak menjadi pintar tapi tidak berkarakter. Keberhasilan diukur hanya dengan hasil akademik. Pendidikan tidak membekas dalam kehidupan. Anak dituntut menguasai materi namun tidak mampu mengaplikasikan dalam keseharian. Akibatnya anak tidak mampu bersaing.
Untuk mengatasi segala permasalahan di atas, diperlukan adanya sinergi antara orangtua dan pihak sekolah. Rumah diibaratkan sebagai baiti jannati, rumahku adalah surgaku. Adanya keharmonisan yang terjalian di antara anggota keluarga diperlukan agar anak merasa nyaman dan dekat. Penanaman keteladanan pada diri orangtua dimana anak sering meniru apa yang dilakukan orangtua dan orang terdekatnya. Di lain sisi, sekolah adalah rumah kedua bagi anak. Madrosati jannati. Sekolah yang diwakili guru sebagai pendidik hendaklah menjadi suri tauladan sekaligus sebagai motor penggerak anak didiknya.
      Kerjasama yang baik antara orangtua dan sekolah akan sangat membantu anak dalam belajar. Apa yang tidak tuntas di sekolah, dapat dituntaskan di rumah. Begitu juga sebaliknya. Apa yang sudah diajarkan di sekolah, orangtua dapat mengawal agar terlaksana dengan baik di rumah. Saling bekerjasama antara sekolah dan rumah juga dilakukan untuk menghindari adanya kontradiksi dan kesalahpahaman. Kerjasama ini biasanya diwujudkan dalam bentuk buku penghubung, dimana kedua belah pihak dapat sama-sama membaca serta menuliskan apa yang menjadi ganjalan dan keluh kesah pada diri anak.

      "Dan hendaklah takut kepada Alloh orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir (kesejahteraan) mereka. Oleh karena sebab itu hendaklah mereka bertaqwa kepada Alloh dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar." (QS. An Nisa : 9)

Dalam Islam, anak memiliki beberapa kedudukan:
1.      Anak Adalah Titipan. 
Diumpamakan seseorang yang menitipkan barang kepada kita. Saat barang itu diminta dan dalam keadaan rusak, maka yang punya akan marah. Demikian pula anak. Anak adalah titipan Alloh, jagalah dengan baik agar Alloh tidak marah.
2.      Anak Adalah Amanah. 
Tidak semua orangtua mendapatkan amanah ini. Jika anda termasuk orang yang beruntung mendapatkan amanah itu, maka peliharalah dia dengan baik. Jangan disia-siakan.
3.      Anak Adalah Sebutir Benih.
Jika benih ditanam pada tanah yang baik, maka dia akan menjadi baik. Namun jika ditanam pada lahan yang buruk, tumbuhnya pun jadi kurang menyenangkan, bukan. Pastinya sebagai orangtua menginginkan anaknya tumbuh menjadi pribadi yang baik. Karenanya, tanamlah benih itu di lahan yang baik. Sterilkan rumah dari kemaksiatan, tontonan yang tidak mendidik. Kondisikan lingkungan yang baik untuk pertumbuhannya.
4.      Anak Adalah Fitrah. 

Anak terlahir dalam keadaan fitrah. Hadapkan wajahnya pada agama fitrah yaitu islam. Sesuatu yang fitrah maka akan kembali ke fitrahnya. Bangun jiwanya, bukan hanya raganya. Sirami dengan nasehat yang baik, ajaran agama


Keterampilan dan pengetahuan tidaklah bersifat permanen. Ini akan terus berkembang seiring berjalannya waktu. Tantangan yang dihadapi anak kita, tentu tidak sama dengan apa yang kita hadapi sekarang. Motivasi anak untuk terus berkembang dengan cara learning to know, learning to do, learning to be, dan learning to live together. Yang terakhir inilah yang paling penting karena anak belajar untuk saling menghargai dan menghormati, saling memberi dan menerima, dan hidup bersosial.
Hantarkan anak kita tidak hanya mampu berenang di kolam renang, tapi juga mampu berenang di samudera. Menggapai kesuksesan dengan kekuatan untuk berkompetisi. Persiapkan untuk bersaing pada masa yang akan datang dengan spirit INQUIRI, yaitu kebiasaan meneliti dan menulis, yang menjadi kebanggaan dan supremasi kejayaan peradaban Islam pada masa keemasan.

Jaman sekarang, anak dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik, sekaligus kemampuan kompetisi secara menyeluruh. Kecepatan dan kretifitas. Sumber daya manusia yang produktif dan kompeten merupakan modal pembangunan. Hal ini dihasilkan dari pendidikan yang bermutu dan berkarakter. Pendidikan sekarang adalah cerminan kepemimpinan yang akan datang.


Renungan:

Jika anak banyak dihantui ketakutan, ia akan terbiasa merasa cemas.
Jika anak terbiasa dikasihi, ia akan terbiasa meratapi nasibnya.
Jika anak dikelilingi olok-olok, ia akan terbiasa jadi pemalu.
Jika anak terbiasa dikitari rasa iri, ia akan terbiasa merasa bersalah.
Jika anak banyak dicela, ia akan biasa menyalahkan.
Jika anak banyak dimusuhi, ia akan terbiasa menentang.
Jika anak serba dimengerti, ia akan terbiasa menjadi penyabar.
Jika anak banyak diberi dorongan, ia akan terbiasa percayadiri.
Jika anak mengenyam rasa aman, ia terbiasa mengendalikan diri dan mempercayai orang sekitarnya.
Jika anak dikerumuni keramahan, ia akan terbiasa berpendirian.
Jika anak mendapatkan pengakuan dari lingkungannya, ia akan terbiasa menetapkan langkahnya
Jika anak diperlakukan dengan jujur, ia akan terbiasa melihat kebenaran.

4 komentar:

  1. Aku suka quotes Albert Einstein yang paling atas.. :)
    Inspiratif nih artikelnya...
    Salam kenal yaa....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Iptek dan Imtaq tak bisa dipisahkan :)

      Salam kenal juga :D :D

      Hapus
  2. Inquiri. Satu hal penting utk diperhatikan.
    Terima kasih sudah berbagi, Mbak. :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sama-sama, Mak. Semoga bermanfaat :)

      Hapus

Terima kasih telah berbagi komentar