Kamis, 18 Oktober 2012

LUKISAN RAKA

By. Hana Aina



Raka membuka gulungan kertas yang sedari tadi digenggamnya. Kertas karton seukuran buku gambar besar. Di sana, tadi malam ia melukis gambar kucing putih belang coklat dengan menggunakan cat minyak. Itu adalah tugas dari Pak Yono, guru menggambarnya, minggu lalu sebagai tugas liburan sekolah. Rencananya hari ini semua tugas akan dikumpulan.
Raka menggelar lukisannya di atas meja. Ia anak yang suka pamer. Ia ingin teman-temannya yang melihat lukisannya lalu terkagum dan memujinya. Dan itu benar. Satu per satu teman Raka mulai mengerumuni meja Raka karena ingin melihat lukisan kucingnya dari dekat.
“Wah, Raka hebat, ya. Bisa melukis sebagus itu,” Doni mendekat pada Raka. Teman-temannya lain yang mendengar ucapannya jadi penasaran.
“Pasti susah, ya, membuatnya?” Nando penasaran bagaimana Raka bisa membuat lukisan sebagus itu.
“Tidak juga. Gampang, kok,” jawab raka enteng, sambil melipat tangannya ke depan dada. Wajahnya sedikit mendongak ke atas, dadanya membusung bangga.
Karena banyak yang ingin melihat hingga berdesak-desakan. Giring yang melihat paling depan sampai tergencet. Ia didorong dari belakang hingga akhirnya jatuh tersungkur. Tanpa sengaja tangannya menarik kertas lukisan Raka hingga merobek tepinya. Raka yang melihat lukisan kebanggaannya sobek marah besar.
“Lukisanku…!!” Mata Raka terbelalak. Teman-teman lain yang melihat kejadian itu sedikit mundur ke belakang. Suasana hening.
“Maaf, Raka,” suara Giring bergetar. Ia ketakutan melihat wajah Raka yang merah padam lalu mengambil sobekan lukisan dan meletakkannya di meja Raka. “Aku nggak sengaja.”
“Nggak sengaja bagaimana? Aku jelas-jelas melihatmu menariknya,”
“Aku terjatuh,” Giring merasa bersalah. Bagaimana pun memang dia yang menyebabkan lukian raka sobek meski tak sengaja.
Mata Raka berkaca-kaca. Ia mulai menangisi lukisan yang belum sempat ia nilaikan. Melihat kejadian itu Desta, ketua kelas 6-A, melaporkannya pada Pak Yono. Pak Yono memanggil Raka dan Giring ke ruang guru.
Raka memperlihatkan lukisannya yang kini tak utuh lagi. Sedang Giring tertunduk. Mereka sekarang duduk berhadapan dengan Pak Yono di ruang guru.
“Giring, apa benar kamu yang melakukannya?” tanya Pak Yono. Giring hanya mengangguk pelan.
“Tapi saya nggak sengaja. Saya terjatuh,” Giring memberi alasan.
“Inikan tugas liburan, Pak. Belum sempat saya nilaikan,” Mata Raka masih basah. Sesekali ia masih manangis.
Pak Yono mendengar dengan seksama pembelaan Giring dan Raka. “Ya sudah. Bapak kasih kamu kesempatan untuk membuatnya lagi,” Ia menarik nafas panjang lalu melanjutkan. “Sekarang, Giring minta maaf pada Raka,”

“Aku minta maaf, Raka,” Giring berpaling pada Raka yang duduk di sampingnya. Ia mengulurkan tangannya, mengajak salaman.
“Tidak mau,” Raka menarik tangannya ke belakang punggung. Ia masih marah pada Giring.
Melihat sikap Raka, Pak Yono terkejut. “Lho, kenapa?”
“Saya… tidak bisa membuatnya lagi,” jawab Raka perlahan. Ia kembali menangis.
“Bukannya tadi kamu bilang gampang membuatnya,” Giring ingat apa yang dikatakan Raka pada teman-temannya di dalam kelas tadi
“Sebenarnya… Raka minta bantuan Papah Raka untuk membuatnya. Sekarang Papah sedang keluar kota,” Raka tertunduk.
“Jadi, itu bukan lukisan Raka sendiri?” tanya Pak Yono.
Raka menggeleng. “Raka ingin dapat nilai yang bagus. Tapi Raka nggak bisa melukis sebagus Papah,” Raka memberikan penjelasan.
“Maaf, Pak,” Raka menyesal.
Pak Yono terdiam, lalu berkata. “Kalau begitu, Bapak memaafkan Raka yang sudah mau bicara jujur, asalkan Raka juga harus mau memaafkan Giring,”
Raka mengangguk. Ia tersenyum lega. Pak Yono memaafkannya dan tidak menghukumnya karena telah berbohong dan curang.
Raka dan Giring bersalaman, kemudian berpelukan. Raka telah memaafkan Giring dan ia diberi kesempatan oleh Pak Yono untuk membuat tugas melukisnya lagi dengan catatan lukisannya sendiri bukan lukisan orang lain.
Meski tidak sebagus lukisan Papahnya, tapi Raka harus bangga dengan hasil karyanya sendiri. Tidak mengakui hasil karya orang lain sebagai hasil karyanya. Karena itu sama juga dengan bohong. Tidak hanya membohongi orang lain, tapi juga membohongi diri sendiri.
THE END

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berbagi komentar