Senin, 05 Februari 2018

Saat Amarah Membuncah, Berdamai dengan Diri Sendiri Tak Ada Salah


Sebagai manusia normal tentu kita pernah merasakan marah. Apapun penyebabnya, marah adalah bagian dari emosi manusia.

Ada sebagian orang yang melampiaskan amarahnya dengan meledak-ledak. Bisa jadi dia akan mengomel dengan kecepan tinggi, dengan nada sopran, dan bahkan melampiaskannya pada benda-benda disekelilingnya. Ada horornya juga ya kalau seperti ini. Namun sebagian manusia yang lain melalui emosi marahnya dengan diam. Ditanya apapun dia kan diam. Ditawari apapun dia tetap diam. Kalau pun mau bereaksi, dia hanya akan menjawab dnegan sepatah dua patah kata saja : nggak, biarin, bodo amat, masalah buat Loe? Benar-benar hemat kata. Etapi kalau menurut saya sih yang seperti ini lebih horor dari yang pertama, hihi ^^ Bisa-bisa senggol bacok, nih, huahaha 

Saya pribadi pernah mengalami yang demikian, hehe ^^ Bagaimana respon saya sangat tergantung pada situasi dan juga pemicu marah #pengakuandosa. Etapi sebenarnya kita bisa kok mengendalikan diri saat marah kepada orang lain. Inilah beberapa hal yang biasa saya lakukan saat marah pada orang lain, agar tidak memupuk kebencian pada yang lain namun tetap dapat berdamai dengan diri sendiri.


Jangan Lupa Bernafas
Karena kesibukan, banyak manusia lupa bernafas. Bukan, bukan bernafas yang hanya sekdar menghirup oksigen dan mengeluarkan karbon dioksida. Namun bernafas dengan sedalam-dalamnya, membiarkannya sesaat, lalu membuagnya perlahan. Bernafa spanjang dan dalam seperti ini akan membantu kita lebih rilek dan nyaman. Lakukan berulang dan rasakan setiap oksigen yang mengalir ke tubuh dan otak.

Ambil Jeda
Pergilah sejenak dari tempat kejadian. Jika itu di kantor, maka keluarlah sebentar hanya untuk mengirup udara segar, mencari makan siang atau cemilan, melihat lalulintas di sekitar kantor. Kalau kejadiannya di rumah, saya biasa masuk kamar dan menyibukkan diri dengan kegiatan lain. Ini semacam mengalihkan perhatian pikiran dan perasaan dari hal yang tidak menyenangkan itu.

Evaluasi
Marah pada orang lain, boleh. Tapi evaluasi diri juga perlu. Belum tentu pemicu konflik adalah orang lain. Bisa jadi justru kitalah awal mulanya. Mungkin kitanya yang sedang lelah atau yang perempaun sedang PMS hingga perasaan menjadi sensitif. Lalu main senggol bacok aja, hehe


Maaf dan memaafkan
Marah itu benar-benar menguras energi, pikiran, perasaan, dll. Karenanya jangan lama-lama. Kalau pada akhirnya kesalahan memang bersumber dari diri sendiri, tidak perlu sungkan untuk minta maaf. Tapi kalau dari orang lain, seiring dengan meredanya emosi biasanya sudah termaafkan. Bahkan tidak jarang lho, kita yang hari ini bertengkar, eh, sudah ngobrol bareng, ngopo bareng tanpa ada permintaan maaf resmi. Pernah nggak sih seperti ini? Tiba-tiba akur aja, seolah tidak terjadi apa-apa, haha

Kondisikan keadaan
Biasanya, setelah mengalihkan perhatian ke kegiatan lain, saya bisa sedikit melupakan amarah. Hanya perlu waktu lebih lama untuk menghilangkannya. Tapi nggak lama-lama juga. Sejauh fokus saya sudah bisa ke hal lain, biasanya amarah itu akan hilang dengan sendirinya. Tapiii ... tetap harus dicatat, ya. Konflik bisa diredakan, amarah bisa dimaafkan, namun kesalahan tetap harus diperbaiki.


Amarah adalah salah satu bentuk emosi yang ada dalam diri. Namun saat dia muncul dan kita dapat mengendalikannya dengan baik, tentu ini akan lebih membuat tenang perasaan. Marah sih boleh. Namun berdamai setelahnya pun perlu. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berbagi komentar