Rabu, 09 Maret 2016

KopDar IIDN Solo : Tak Hanya Semata Tulisan, Tapi Juga Kepekaan Sosial




Semangat itu menular. Apalagi jika anda selalu dikelilingi oleh orang-orang yang memiliki semangat yang tinggi. Hanya dengan membaca status-status di beranda facebook mereka saja, kita bisa ikutan semangat. Hanya dengan berdiskusi dengan mereka saja, kita sudah bisa terbakar dan bangkit ingin mengikuti kesuksesannya.

Hal inilah yang coba dilakukan oleh komunitas IIDN Solo Raya. Komunitas yang beranggotakan para ibu dan calon ibu ini melaksanakan kopdar untuk yang kesekian kalinya. Di rumah Bu Nurul Chomariah, seorang psikolog dan penulis buku parenting, kami berdiskusi tentang banyak hal yang terjadi di dunia kepenulisan. Salah satunya yang sedang menjadi perbincangan hangat akhir-akhir ini adalah tentang buku-buku anak.
Buku-buku anak memang sedang banyak diminati. Namun dibalik itu semua, banyak juga yang prihatin dengan kualitas buku-buku anak tersebut, terutama jika dilihat dari konten isi. Mulai dari gambar ilustrasi yang kurang sopan, isi bacaan yang kurang sesuai untuk anak (meski buku itu dilabeli buku anak), sampai menyangkut hal-hal sensitif yang sedang berkembang di masyarakat yaitu elgibiti dan sekulerisme.

Ketua IIDN Solo Raya : Siti Nurhasanah

 Berawal dari keprihatinan inilah, beberapa anggota IIDN Solo mencoba menjajaki peluang penggarapan buku-buku anak, baik pictbook maupun illustrated book. Masing-masing dari jenis buku ini memiliki tantangan dan kesulitan tersesndiri. Terutama dalam hal ilustrasi dan pemilihan kata. Maklum, sasaran dari buku ini adalah anak-anak.
Seperti pada kopdar sebelum-sebelumnya, selalu diadakan dsikusi. Dalam kesempatan ini, Mba Saptorini yang memimpin diskusi. Mbak Rein, begitu dia biasa disapa, adalah seorang penulis yang kini fokus pada penggarapan buku-buku anak. Mantan editor di sebuah penerbitan di Solo ini telah banyak memiliki pengalaman dalam penggarapan pictbook maupun illustrated book. Menurut Mbak Rein, menggarap buku dengan sekmen pasar anak-anak adalah gampang-gampang susah. Banyak tantangan yang harus dilalui. Terutama adalah pemilihan kata dan ilustrasi buku.
Buku yang ditujukan untuk anak tentu tidak sekomplek buku untuk dewasa. Tidak banyak tulisan di sana. Bahkan untuk pict book, hanya butuh satu atau 2 kalimat pendek saja per halaman. Karenanya dibutuhkan pemilihan kata yang tepat agar dengan kalimat yang sedikit dan pendek tersebut, anak-anak tetap mengerti.
Kendala yang lain adalah gambar ilustrasi. Sebenarnya alangkah lebih baik jika penulis buku anak juga memiliki kemampuan dalam hal menggambar ilustrasi. Hal ini untuk memungkinkan penggambaran secara nyata apa yang menjadi imajinasi dan yang dimaksudkan oleh penulis. Namun jika penulis belum memiliki kemampuan ini, biasanya pihak penerbit akan menyediakan ilustrator. Nah, di sinilah pentingnya kekompakan antara ilustrator dan penulis. Penulis harus menjelaskan dengn detail maksud dari ceritanya hingga Ilustrator dapat mengerti apa yang dimaui penulis. Kalau keduanya kompak, pasti bukunya jadi bagus ^^


Anak-anak memang pihak yang paling rentan untuk dipengaruhi, baik tingkah laku maupun pola pikir. Sudah menjadi tanggung jawab orang tua untuk memberikan hal terbaik bagi buah hatinya. Salah satunya adalah pemilihan bahan bacaan yang sesuai dengan umur dan moral. Jadi tidak hanya semata karena kemasan, ilustrasi, maupun penulis dan penerbitnya. Namun juga diperhatikan dari sisi isi. Agar tidak bertentangan dengan norma, khususnya agama.

2 komentar:

  1. Selalu ada cerita seru disetiap kopdar

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, Mbak. Nggak cuman seseruan, tapi juga dapat ilmu ^^

      Hapus

Terima kasih telah berbagi komentar