Selasa, 25 Desember 2012

PING YANG GAK PINK

By. Hana Aina
--------------------------------------------------------------------



Add caption
     Sepulang sekolah Jhenny ngajak Joni ketemuan di kantin belakang sekolah. Saat itu sudah sepi.
     “Beib, jangan makan emping terus, yang lain, dong,” kata Jhenny sambil manyun. Jono yang sedari tadi asyik ngunyah emping terdiam. Remahan emping masih tertahan di mulutnya. Jhenny memperhatikan beberapa makanan ringan yang terhidang di hadapannya. Sepiring donat bolong, singkong keju, tempe penyet dan pisang madu, sudah semua dicicipin Jhenny. Sedang Jono hanya setia pada empingnya. Jangankan mencoba yang lain, melirik pun tidak.
     Jono terdiam menelan lambat emping yang tertahan di tenggorokannya, sesaat kemudian melanjutkan ngemilnya. Jhenny yang sedari tadi bersamanya ngerasa dicuekin  mengeluarkan si Cuping dari boxnya. Ya,
Cuping si kucing kesayangannya. Dia juga membawanya ke sekolah. Hanya saja tak dibawa masuk kelas, tapi dititipkan pada bu Darni, penjaga kantin sekolah.
     Jhenny membelai lembut bulu
Cuping yang putih bersih. Di rapikannya pita warna pink yang menghiasi bulu kepalanya yang sengaja di kuncir sedikit. Cuping yang merasa mendapatkan perhatian lebih mengibas-ibaskan ekornya tanda suka.
     Jono melirik pada Jhenny, “kenapa si
Cuping terus yang belai. Sekali-kali aku. Dicium gitu juga mau,” kata Jono, manyun.
     “Ih, maunya,” jawab Jhenny singkat. Jhenny menggendong
Cuping dalam pelukannya, Sesekali diciumnya kucing Persia berbulu lebat yang sudah hampir satu tahun ini setia menemaninya.
     “Beib, udah dong. Jangan
Cuping terus yang diurusin. Empet tahu lihatnya,” pinta Jono sambil terus ngemil.
     “Kamu juga, Beib. Udahan ngemil empingnya. Nggak tahan tahu sama aromanya,” balas Jhenny sambil sekali-kali ngelirik ke Jono.
    “Tapi ini kan enak,” ujar Jono sambil memperlihatkan sebuah emping ditangannya yang tak lama kemudian masuk ke mulutnya.
     “Sama. Ini juga asyik, “ Jhenny nggak mau kalah.
     Mereka terdiam dan saling beradu pandang. Sesaat kemudian mereka kembali dengan keasyikannya masing-masing. Jono dengan empingnya sedang Jhenny dengan kucingnya.

***

      Saat jam istirahat Jhenny merapat ke Jono yang sedang menikmati soto ayam di kantin. Jhenny langsung duduk di sampiung Jono. Jono yang kaget tak kuasa menelan nasi soto yang ada di mulutnya. Alhasil, dirinya terdesak lalu terbatuk.
     “Eh, Beib, maaf,“ Jhenny yang sadar akan tingkahnya telah membuat Jono tersedak hingga wajahnya merah padam mengambil teh hangat di dekat mangkok, lalu memberikannya pada Jono. Jono dengan cepat menerimanya lalu menyeruputnya perlahan hingga sisa-sisa nasi yang menyangkut di kerongkongannya tersapu semua masuk ke dalam perut.
     “Ada apa sih, Beib, kok segitunya?” tanya Jono sambil sesekali terbatuk.
    Jhenny cemberut. "Kita gak bisa nge-ping lagi" katanya. Jono terkejut mendengar kata-kata Jhenny. Ia menelan ludah perlahan.
     "Maksudmu, cinta kita gak lagi merah jambu?" tanya Jono. Matanya berkaca, suaranya bergetar.
     “Bukan itu,” katanya sambil mengusap air mata yang jatuh di sudut matanya. Ia terisak.
     “Si
Cuping mati,” katanya singkat, ”ketabrak mobil pagi tadi,”
     “Oh, aku kira apa,” Suasana hati Jono kembali normal setelah mendengar penjelasan singkat dari Jhenny. Paling tidak bukan cinta Jhenny padanya yang mati. Tapi si
Cuping , kucing Jhenny yang selama ini jadi uring-uringan antara Jhenny dengannya.
     “Kok kamu gitu sih? Nggak sedih ya?” Jhenny melihat ke arah Jono, sedikit heran.
     “Eh, bukan gitu, Beib,” Jono berusaha pasang wajah sedih. “Tapi apa hubungannya kematian
Cuping dengan kita?”
     “Tentu saja ada. Setiap kita kencan, kamu selalu bawa emping, aku selalu bawa si
Cuping. Nah, kalau sekarang Cuping nggak ada lagi, aku nggak ada teman dong buat nge-ping lawan kamu,” kata Jhenny, sedikit mewek.
     “Oh,” ekspresi Jono sedikit bingung.
     “Mulai sekarang, aku nggak mau lagi dengar kata ping, termasuk emping kamu itu,” kata Jhenny sambil menahan tangis.
     “Besok valentine pun aku nggak mau ada warna pink,” tambahnya.
     “Lho, kok?” Jono tambah bingung.
     “Mau ping atau pink, aku nggak peduli,” ujar Jhenny sambil mengambil secarik tisu dari kantong seragam atas. Disekanya air mata yang sedari tadi membasahi matanya.
     “Tapi kan beda, Beib,” Jono coba menjelaskan.
    “Tapi kan kalau didengar sama bunyinya,” Jhenny tetap kekeh. Diulangnya dua kata yang homofon itu, “Ping. Pink,”
     “Tapi, Beib, kalau valentine kan identik sama warna itu,” Jono nggak mau kalah.
     “Nggak mau. Ganti warna lain. Merah kek, ungu kek. Pokoknya bukan pink,”
    “Eh, iya deh,” Jono tersenyum kecut. Nasi soto yang masih hangat dengan sambal kecap dan taburan bawang goreng serta percikan jeruk nipis tak membangkitkan seleranya lagi. Dia teringat hadiah yang sudah disiapkannya untuk Jhenny. Rencananya akan diberikan waktu valentine yang akan datang beberapa hari lagi.

***

     Jono mengendarai sepeda motornya perlahan. Baru saja ia mengantar Jhenny pulang ke rumah setelah seharian mereka jalan-jalan.
    Valentine sudah berlalu. Pink tak ada lagi. Ia telah mengubah hadiah bantal jantung hati yang semula berwarna pink menjadi ungu, sesuai dengan permintaan Jhenny. Meski dia harus rela tangannya belepotan karna merendam bantal itu sehari semalam dalam pewarna tekstil. Tapi dia rela. Asal Jhenny bahagia.
    “Demi Jhenny apapun akan aku lakukan, kecuali yang satu ini,” Jono berhenti di sebuah taman di tengah kota. Ia mengeluarkan bungkusan kecil dari kantong jaketnya. Angin berhembus sepoi.
    “Sorry Beib, aku memang cinta kamu. Tapi aku lebih cinta empingku,” kata Jono sambi tertawa geli. Ia ingat janjinya pada Jhenny yang gak akan makan emping lagi. Tapi itu kalau bersama Jhenny. Tapi kalau dia sedang sendiri, siapa lagi teman setianya kalau bukan emping.


THE END

1 komentar:

Terima kasih telah berbagi komentar